SITI mengernyitkan dahi ketika ditanya soal ‘emisi gas metana’ atau ‘krisis iklim’. Istilah-istilah ilmiah itu terdengar asing bagi telinganya. Yang ia tahu, suhu di Porong terasa makin panas dari waktu ke waktu. Sebelum ada semburan lumpur Lapindo 20 tahun lalu, ia mengaku suhu di tempatnya masih nyaman untuk ditinggali.
“Menurut saya, memang perubahan itu ada. Suhu sekarang terasa semakin panas,” ujarnya, Kamis 21 Mei 2026, yang sambil mengingat-ingat perubahan suhu sejak puluhan tahun lalu.
Ibu yang memiliki dua anak itu merupakan salah satu warga yang terdampak bencana industri sejak 2006. Kini, ia tinggal di Renojoyo, sekitar 10-15 menit menaiki sepeda motor dari pusat semburan lumpur Lapindo. Sebagai warga terdampak, ia meyakini ada kaitan erat antara keberadaan semburan lumpur Lapindo dengan peningkatan suhu di Porong, Sidoarjo.
Dugaan Siti dibenarkan Lucky Wahyu, Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur. Lelaki itu mengutip penelitian yang dipublikasi pada 2021 berjudul Relevant Methane Emission to the Atmosphere from a Geological Gas Manifestation dari Scientific Reports yang dikerjakan secara kolaboratif oleh University of Oslo, SRON Netherlands Institute for Space Research, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), dan lainnya.
Hasil riset tersebut menyatakan, emisi gas metana yang dikeluarkan lumpur Lapindo mencapai 100.000 ton per tahun. Temuan ini menunjukkan, lumpur Lapindo adalah salah satu fenomena gas alam yang (salah satunya) paling banyak mengeluarkan emisi gas metana di dunia,” ujarnya.
Dijelaskan Lucky, penelitian itu memaparkan lumpur Lapindo melepaskan sekitar 0,1 teragram (Tg) atau sekitar 100.000 ton emisi gas metana per tahun ke atmosfer. Angka ini terbilang besar, sebab satu lokasi ini saja sudah menyamai batas minimum perkiraan emisi gas bumi untuk seluruh dunia.
Mari kita bayangkan, sebuah truk tangki Pertamina berkapasitas 16.000 liter yang mengangkut bahan bakar minyak (BBM) ke SPBU. Dalam setahun, emisi gas metana dari lumpur Lapindo setara muatan 6.250 truk tangki gas yang seluruh isinya bocor langsung ke atmosfer. Jumlah sebanyak itu tak bisa disepelekan.
Volume emisi gas metana (CH4) di atmosfer memang tidak sebesar karbon dioksida (CO2), namun emisi gas metana memiliki daya rusak yang lebih besar. Sebab, dalam jangka pendek saja, emisi gas metana dapat 32 kali lebih berbahaya dari karbon dioksida dalam percepatan pemanasan global," ungkapnya.
Penelitian itu menyebutkan, emisi gas metana juga sangat berbahaya bagi lingkungan karena kekuatannya dalam memerangkap panas (efek rumah kaca) di atmosfer 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
Emisi gas metana tidak hanya keluar dari lubang utama semburan lumpur Lapindo. Tetapi, melalui empat saluran, yaitu dua lubang utama (kawah) yang mengeluarkan emisi gas metana dalam jumlah besar (42.000 ton per tahun), rembesan halus (miniseepage) yang merembes secara tidak kasat mata melalui permukaan lumpur, zona retakan (fractured zone) yang keluar dari jaringan retakan tanah, dan ribuan rembesan satelit berupa titik-titik semburan emisi gas metana kecil yang tersebar di area seluas 7 km2.
BACA JUGA :
Krisis Iklim Dibayar Nyawa Pengemudi Ojol (1)
Krisis Iklim Dibayar Nyawa Pengemudi Ojol (2)
“Tentu apabila gas metana yang dikeluarkan dari lumpur Lapindo ini berlanjut, hal itu akan menyebabkan percepatan krisis iklim dalam skala lokal. Artinya, wilayah-wilayah di sekitar Porong berpotensi menjadi kawasan yang lebih kering akibat kenaikan suhu,” imbuhnya.
Lagi-lagi, penelitian itu menyebut, secara global atmosfer menerima sekitar 560 teragram (Tg) emisi gas metana setiap tahunnya dari berbagai sumber, baik alami maupun akibat aktivitas manusia. Karena kekuatannya yang besar, setiap peningkatan jumlah emisi gas metana di atmosfer akan mempercepat pemanasan suhu permukaan bumi atau krisis iklim.
Lucky menjelaskan, dampak dari emisi gas metana ini mulai dirasakan langsung warga di sekitar lokasi semburan lumpur Lapindo. Kenaikan suhu ekstrem di Porong menjadi keluhan warga terdampak. Sebab, sifat emisi gas metana yang mengeluarkan panas membuat Porong terasa lebih terik dibanding yang lain.
Banyak orang merasa Porong sangat panas, karena emisi gas metana memang memiliki sifat memerangkap dan meningkatkan panas. Jika emisi gas metana ini terus berlanjut tanpa upaya meminimalisir, wilayah di sekitar Porong berpotensi menjadi kawasan kering akibat kenaikan suhu yang berlangsung cukup cepat,” ucap Lucky.
Itu juga diulas oleh Arie Dipareza Syafei, Departemen Teknik Lingkungan, Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Ia menjelaskan, upaya menangkap emisi gas metana atau methane capture agar tidak lepas ke atmosfer ternyata memiliki tantangan teknis yang tak mudah.
Masalah utamanya, lumpur Lapindo merupakan non-point source, di mana emisi gas metana keluar melalui banyak rekahan di area yang sangat luas, bukan dari satu titik tunggal. Kondisi itu, kata Arie, membuat sistem penangkapan menjadi sangat kompleks dan mahal secara ekonomi.
Ini perlu pembatasan ketat untuk fungsi hunian atau perumahan, mengingat risiko geologi dan kualitas lingkungan yang sulit dipulihkan,” tegasnya.
Bagi Arie, emisi gas metana lumpur Lapindo memang memiliki kontribusi ke pemanasan global atau efek rumah kaca. Namun, itu bukan satu-satunya faktor kenaikan suhu lokal di Sidoarjo.
Selain emisi gas metana lumpur Lapindo, ada faktor lainnya yang menyebabkan suhu panas dari waktu ke waktu ini, seperti urbanisasi, permukaan kedap air, hilangnya vegetasi, dan emisi panas dari aktivitas sehari-hari manusia.
Berkaitan dengan itu, penelitian di atas menggunakan data satelit TROPOMI periode Mei 2018–Juli 2019 untuk mendeteksi peningkatan emisi gas metana 8–9 ppb di Surabaya–Sidoarjo, termasuk kawasan lumpur Lapindo. Estimasi emisi gas metana mencapai 140.000 ± 87.000 ton per tahun dan selaras dengan pengukuran darat sekitar 0,1 Tg per tahun.
Seperti citra satelit di atas, emisi gas metana lumpur Lapindo terdeteksi menyebar karena keluar melalui kawah, retakan tanah, dan rembesan kecil. Menurut penelitian itu, temuan ini menegaskan satelit TROPOMI efektif untuk memantau emisi gas geologi apapun yang terdapat di wilayah berbahaya atau sulit dijangkau, termasuk kawasan lumpur Lapindo ini.
Namun, Arie memberikan catatan terkait penggunaan satelit TROPOMI dalam memantau emisi gas metana di kawasan lumpur Lapindo. Meski diakui efektif sebagai alat deteksi awal, teknologi ini dianggap memiliki keterbatasan serius dalam hal akurasi spasial.
Menurutnya, satelit TROPOMI pada Sentinel-5P memang mampu mengidentifikasi lumpur Lapindo sebagai hotspot emisi gas metana berskala besar dengan estimasi fluks mencapai 100.000 ton per tahun. Namun, ia menekankan, data tersebut belum cukup detail untuk memetakan sumber-sumber emisi yang tersebar di area yang luas.
Resolusi spasial TROPOMI masih terbatas, yakni dalam orde beberapa kilometer. Jadi, untuk area kompleks dan banyak sumber kecil, satelit ini perlu dilengkapi dengan satelit resolusi lebih tinggi (misalnya GHGSat) dan pemantauan in-situ," ungkap Arie.
Ia menambahkan, satelit TROPOMI hanya efektif untuk memantau tren atau sebagai detektor awal. Namun, untuk mendapatkan data yang presisi di Porong yang memiliki banyak rekahan (non-point source), penggunaan satelit TROPOMI harus diintegrasikan dengan pengukuran langsung di permukaan tanah atau satelit beresolusi lebih tinggi.
Segudang Masalah Krisis Iklim di Porong
Siti merasakan di daerahnya kerap mengalami kemarau dan kekeringan ekstrem. Ini sejalan dengan pemaparan Lucky dan temuan-temuan penelitian di atas yang menjelaskan, kemarau dan kekeringan ekstrem itu salah satunya disebabkan emisi gas metana dari lumpur Lapindo yang masuk dalam kategori super emitter atau salah satu penghasil emisi gas metana besar di tingkat global.
Selain lumpur Lapindo, tempat-tempat yang menjadi super emitter di antaranya Permian Basin di Amerika Serikat, salah satu kawasan minyak terbesar dunia. Lalu, ada Turkmenistan, yang terkenal karena kebocoran gas raksasa dari infrastruktur tua Soviet. Lalu di Iran dan Irak, yang memiliki kebocoran sumur minyak.
Emisi gas metana dari lumpur Lapindo yang ikut berperan menyebabkan kemarau atau kekeringan ekstrem itu, berdampak juga terhadap akses air bersih warga Porong. Siti menyebut, air sumurnya tampak keruh dan meninggalkan noda kuning saat dipakai mencuci pakaian berkelir putih.
“Kadang-kadang di tanah itu ada gelembung-gelembung putih yang muncul,” ujarnya, yang menceritakan aktivitas geologi tanah di tempat tinggalnya.
Syahdan, kondisi air yang tak layak konsumsi itu memaksa Siti merogoh kocek ekstra untuk membeli air demi pemakaian sehari-hari. Ia harus membeli air pikulan seharga Rp7.500 per tiga jerigen setiap 2-3 hari sekali untuk kebutuhan memasak. Sehingga pengeluaran air untuk masak saja mencapai sekitar Rp112.500 per bulan.
Anggaran itu belum termasuk biaya air minum galonan yang mencapai dua galon per minggu dengan harga per galon Rp21.500, yang totalnya Rp172.000 per bulan. Sedangkan, untuk mandi dan kakus, Siti dan keluarga memakai air sumur yang keruh dan sedikit kekuningan tadi.
BACA JUGA : Live Shopping dan Krisis Iklim
Kendati air sumurnya gratis, tetapi Siti menggunakan pompa air, yang artinya akan ada tagihan listrik yang harus dibayarkan. Otomatis, beban ekonomi Siti bertambah akibat biaya listrik itu. Panas ekstrem juga memaksa penggunaan kipas angin secara terus-menerus di rumah.
“Biaya listrik jadi bengkak. Awalnya, pengeluaran (listrik) sekitar Rp200.000, sekarang bisa sampai Rp350.000 per bulan. Cuaca panas seperti ini, pasti pakai kipas angin terus,” keluh Siti.
Apabila ditotal dari semua pengeluaran air dan listrik untuk mengatasi dampak krisis iklim tersebut, Siti perlu membayar sekitar Rp634.500 per bulan. Itu hanya air dan listrik, belum tanggungan biaya hidup yang lain di keluarganya.
Melihat kondisi itu, Lucky menimpali, krisis iklim yang dipicu emisi gas metana ini bukan sekadar angka statistik, tetapi ancaman bagi urusan pangan warga di daerah tersebut. Di Sidoarjo sendiri, sektor pertanian dan perikanan menjadi yang paling terdampak.
Dirinya menyoroti nasib petani di Sidoarjo yang kini dihantui ancaman kekeringan panjang. Termasuk masyarakat di wilayah pesisir seperti Sedati, yang mayoritas bekerja sebagai petambak garam.
Kenaikan suhu ini berpotensi mempercepat penguapan air laut. Namun, anomali cuaca lokal berupa hujan ekstrem menjadi musuh utama petambak garam. Sekali saja hujan turun, panen dipastikan gagal. Ini merupakan ancaman ekonomi yang sangat serius bagi masyarakat pesisir,” kata Lucky.
Di sisi lain, kenaikan suhu ini memicu rantai bencana baru yang disebut sebagai anomali cuaca lokal. Warga kini sering menghadapi situasi yang tidak terprediksi, seperti hujan ekstrem yang tiba-tiba muncul di tengah musim kemarau, atau sebaliknya, kemarau panjang yang menghantam saat musim hujan.
Pun tak sedikit warga yang mengalami gangguan kesehatan. Siti menceritakan bagaimana gangguan kulit telah menjadi penyakit membandel setiap cuaca kemarau atau kekeringan ekstrem.
“Banyak orang yang terkena gatal-gatal. Tiba-tiba terasa gatal-gatal dan panas di sekujur tubuh, ada yang hanya di wajah, bahkan ada yang sampai harus dibawa ke spesialis kulit,” jelas Siti.
Kondisi itu mirip yang diterangkan Arie, emisi gas metana juga berdampak terhadap kesehatan warga di Porong. Arie melanjutkan, gas metana sendiri relatif tidak beracun secara konsentrasi lingkungan biasa atau kondisi normal, tapi dapat menggantikan oksigen pada konsentrasi sangat tinggi di ruang tertutup dan menimbulkan risiko ledakan bila bercampur dengan udara dalam rentang tertentu.
“Risiko langsung terhadap kesehatan, karena biasanya gas metana lebih kecil, tapi emisinya sering disertai komponen lain, seperti hidrokarbon berat, hidrogen sulfida (H2S), dan partikel dari lumpur kering, yang bisa menurunkan kualitas udara di daerah tersebut,” tuturnya.
Kata Arie, dampak lainnya adalah kombinasi kualitas udara, yang di dalamnya termasuk bau, iritasi, debu halus dari sedimen kering, serta perubahan kualitas air dan sedimen sungai. Lalu, dampak sosial-ekonomi akibat hilangnya lahan, rumah, dan infrastruktur lainnya.
Satu hal yang membuat Siti khawatir, yaitu penyakit berkategori berat. Ia menyebut, ada kanker hati, kanker payudara, kelenjar tiroid, hingga infeksi saluran kencing yang berkembang menjadi kanker. Ya, kini sekitar 4 orang di daerahnya sedang memiliki penyakit kanker.
Selain penyakit fisik, Siti melihat banyak tetangganya mengalami stres dan frustasi atas kondisi hidup akibat 20 tahun warga terdampak lumpur Lapindo dan tak ada perubahan kehidupan yang lebih layak.
Banyak orang stres sekarang. Mereka memikirkan keadaan desa yang dulu sangat berbeda. Tetangga tidak seperti dulu lagi, perekonomian berubah, dan kondisi keluarga tak seharmonis dulu sebelum ada kejadian lumpur,” ungkapnya.
Sejauh ini, belum ada perhatian pemerintah terkait dampak spesifik emisi gas metana. Memang, kata Siti, ada pemeriksaan kesehatan lansia dari Puskesmas setempat. Namun, tak ada pemeriksaan khusus untuk memantau dampak emisi gas metana akibat semburan lumpur Lapindo.
“Mohon ada perhatian yang lebih terhadap kesehatan orang-orang, banyak yang sakit tapi jarang mau berobat ke rumah sakit. Takutnya, uang sudah gak punya, untuk mondar-mandir pasti butuh biaya,“ katanya.
Bencana Industri, Disulap Jadi Bencana Alam
Juru Kampanye Jaringan Advokasi Anti Tambang (JATAM), Hema Situmorang menjelaskan, fokus dunia terhadap krisis iklim sering kali hanya terpaku pada emisi karbon dioksida, sementara kontribusi besar emisi gas metana dari bencana industri seperti lumpur Lapindo kerap dikesampingkan.
Penurunan kualitas hidup itu nyata, dampaknya sangat luas ketika bicara tentang lumpur Lapindo. JATAM melihat, efek emisi gas metana ini hanya salah satu dari seluruh dampak yang ada,” ujar Hema.
Ia melanjutkan, emisi gas metana ini tidak hanya berdampak secara global, tetapi menciptakan krisis iklim skala lokal di Porong, Sidoarjo. Hema menyebut, kenaikan emisi gas metana yang terperangkap menciptakan efek rumah kaca yang meningkatkan suhu di sekitar area semburan. “Tentu saja, hal ini akan memengaruhi baik iklim mikro maupun makronya,” katanya.
Hema menyoroti, dampak dari semburan lumpur ini tidak berhenti pada kenaikan suhu lokal atau global saja, melainkan ada pula zat-zat polutan berbahaya lainnya yang ikut terimobilisasi akibat suhu panas semburan, seperti timbal dan kadmium. Zat-zat itu, kata Hema, bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.
“Mereka belum pernah mengalami hal tersebut sebelumnya. Jadi, kanker berkaitan erat dengan kualitas hidup yang menurun akibat polutan berbahaya, termasuk emisi gas metana dan zat karsinogenik lainnya,” tutur Hema.
BACA JUGA : Krisis Iklim dan Hancurnya Sungai Brantas
Kritik keras Hema terhadap pemerintah adalah upaya untuk membingkai lumpur Lapindo sebagai ‘bencana alam’, bukan ‘bencana industri’. Framing ini, kata Hema, dianggap sebagai cara negara untuk melepaskan tanggung jawab korporasi dari kewajiban pemulihan lingkungan. Dan, Hema menegaskan, praktik-praktik semacam itu merupakan bagian dari bentuk impunitas.
Negara selalu membingkai bencana yang diakibatkan industri ini sebagai bencana alam yang terjadi secara alami. Akibatnya, tanggung jawab tidak dibebankan kepada industrinya,” ungkapnya.
Menurut Hema, apa yang terjadi di lumpur Lapindo ini, memenuhi karakter pelanggaran HAM berat. Sebab, konstitusi menjamin hak warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, namun dalam kasus lumpur Lapindo, ribuan orang kehilangan ruang hidup mereka tanpa keadilan sejak 2006.
Desakan untuk mengevaluasi seluruh izin pertambangan dan emisi terus dilakukan JATAM sejak berdiri pada 1995. Namun, tantangan terbesarnya adalah posisi negara yang sering kali justru sejalan dengan korporasi, bukan dengan rakyatnya.
“Kami tidak hanya berhadapan dengan korporasi, tapi juga negara yang tidak hadir di sisi rakyat. Kemenangan hukum warga, sering kali diabaikan begitu saja oleh negara,” pungkasnya.
*Artikel ini merupakan bagian dari serial “Krisis Iklim”, kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim. Liputan ini sekaligus memperingati Hari Anti Tambang (HATAM) yang diperingati setiap 29 Mei.